
CK 24 || Cirebon – Sebanyak 1.500 calon mahasiswa Universitas Al-Azhar, Kairo, Mesir, mengikuti Pembekalan Wawasan Kebangsaan yang diselenggarakan Forum Konsultan Pendidikan Al-Azhar Mesir Indonesia (Forkappmi) di Hotel Luxton Cirebon. Kegiatan ini menghadirkan Rais Syuriah PBNU KH. Imam Jazuli, Direktur Jenderal Pendidikan Islam Prof. Amin Suyitno, dan Wakil Duta Besar Mesir Dr. Amar Mukhtar.
Anggota Komisi VIII DPR RI sekaligus Penasihat Forkappmi, Dr. KH. Maman Imanulhaq, menegaskan bahwa keberadaan Forkappmi memiliki peran strategis dalam memperluas akses pendidikan tinggi Islam, melindungi calon mahasiswa, serta menyiapkan generasi Muslim Indonesia yang unggul, moderat, dan berwawasan kebangsaan.
Menurutnya, keberangkatan ribuan santri untuk menuntut ilmu di Al-Azhar tidak boleh dipandang semata-mata sebagai urusan administrasi dan mobilitas pendidikan. Lebih dari itu, proses tersebut merupakan investasi strategis bagi masa depan umat dan bangsa yang membutuhkan tata kelola profesional, transparan, aman, dan berkelanjutan.
“Kita ingin memastikan bahwa kesempatan belajar di Al-Azhar tidak hanya terbuka bagi mereka yang memiliki akses informasi dan kemampuan ekonomi. Anak-anak pesantren dari berbagai daerah juga harus memperoleh kesempatan yang adil, pendampingan yang layak, dan perlindungan selama proses keberangkatan hingga menjalani pendidikan,” tegas Dr. KH. Maman Imanulhaq.
Ia menjelaskan, terdapat lima urgensi utama kehadiran Forkappmi.
Pertama.
Memperluas Akses Pendidikan.
Forkappmi membantu calon mahasiswa dan keluarga memahami prosedur pendaftaran, persyaratan akademik, tahapan seleksi, serta mekanisme keberangkatan.
Pendampingan ini penting untuk mengurangi kesenjangan informasi, terutama bagi santri dari keluarga sederhana dan daerah yang memiliki keterbatasan akses.
Kedua.
Melindungi Calon Mahasiswa.
Proses keberangkatan ke luar negeri tidak lepas dari risiko informasi yang menyesatkan, biaya yang tidak transparan, persoalan dokumen, dan praktik percaloan. Karena itu, diperlukan pendampingan yang profesional agar calon mahasiswa memperoleh informasi terverifikasi dan mengikuti prosedur resmi.
Ketiga.
Memperkuat Sinergi Kelembagaan.
Forkappmi menjembatani komunikasi antara pesantren, madrasah, orang tua, lembaga konsultan, instansi pemerintah, dan institusi pendidikan terkait di Mesir. Peran ini membantu mengatasi hambatan administratif tanpa mengambil alih kewenangan lembaga resmi.
Keempat.
Mendorong Efisiensi dan Keterjangkauan Biaya.
Pendampingan kolektif membantu keluarga memahami rincian pembiayaan, menghindari pungutan yang tidak jelas, serta memperoleh informasi mengenai peluang beasiswa dan bantuan pendidikan. Transparansi dan akuntabilitas harus menjadi prinsip utama dalam setiap layanan.
Kelima.
Mengawal Keberlanjutan Studi.
Tanggung jawab pendidikan tidak berhenti ketika mahasiswa tiba di Kairo. Orientasi akademik, adaptasi budaya, pengurusan administrasi, dukungan tempat tinggal, serta pembinaan sosial dan spiritual merupakan bagian penting agar mahasiswa mampu belajar secara optimal dan menyelesaikan pendidikan.
Sebagai forum yang menghimpun lembaga konsultan pendidikan Al-Azhar dari berbagai daerah di Indonesia, Forkappmi diharapkan memperkuat profesionalitas layanan, standar pendampingan, dan perlindungan calon mahasiswa sesuai ketentuan yang berlaku.
Dalam konteks ini, Pembekalan Wawasan Kebangsaan menjadi bagian penting dari persiapan generasi muda Indonesia yang akan menempuh pendidikan di luar negeri. Para calon mahasiswa tidak hanya dituntut menguasai ilmu agama, tetapi juga memahami identitas kebangsaan, menghormati keberagaman, dan menjunjung nilai-nilai moderasi Islam.
“Jangan hanya berangkat ke Mesir untuk menjadi sarjana. Berangkatlah untuk menjadi insan berilmu yang kelak memberikan manfaat bagi masyarakat, memperkuat kehidupan keagamaan yang moderat, dan berkontribusi bagi kemajuan Indonesia. Kita ingin melahirkan ulama dan intelektual Muslim yang mendunia tanpa kehilangan akar kebangsaannya,” tegasnya.
Dr. KH. Maman Imanulhaq berharap kolaborasi antara Forkappmi, pemerintah, pesantren, lembaga pendidikan, dan para pemangku kepentingan terus diperkuat. Sinergi tersebut diperlukan agar proses pendidikan internasional berjalan semakin tertib, terjangkau, aman, dan berorientasi pada kualitas lulusan.
Bagi Forkappmi, keberhasilan tidak cukup diukur dari banyaknya calon mahasiswa yang diberangkatkan, tetapi juga dari terjaminnya proses yang transparan, keberlanjutan studi, dan kontribusi nyata para lulusan bagi umat dan bangsa.
Melalui komitmen tersebut, Forkappmi diharapkan menjadi mitra strategis dalam membangun ekosistem pendidikan Islam internasional yang inklusif, profesional, dan berkelanjutan sekaligus menyiapkan generasi Muslim Indonesia yang berilmu, berakhlak, dan berwawasan kebangsaan.
(Elias)












