
Kota Cirebon CK 24 – Rumah Sakit Daerah (RSD) Gunung Jati Kota Cirebon memasuki usia ke-105 tahun. Lebih dari satu abad perjalanan tersebut menjadi bagian penting dari sejarah pelayanan kesehatan masyarakat di Kota Cirebon dan wilayah sekitarnya.
Momentum tersebut diperingati melalui Apel Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-105 RSD Gunung Jati yang dipimpin langsung Wali Kota Cirebon, Effendi Edo, Senin (31/8/2026).
Mengusung tema “Terus Melayani, Bertransformasi, Bersinergi, untuk Kesehatan yang Lebih Baik”, peringatan HUT tidak hanya menjadi ajang refleksi atas perjalanan panjang rumah sakit, tetapi juga momentum untuk melihat kembali sejauh mana pelayanan kesehatan menjawab kebutuhan masyarakat.
Dalam kesempatan tersebut hadir pula Sekretaris Daerah, Iing Daiman. Wali Kota menyampaikan apresiasi atas perjalanan panjang RSD Gunung Jati yang terus tumbuh dan melakukan pembenahan.
“Atas nama Pemerintah Kota Cirebon, saya mengucapkan selamat Hari Ulang Tahun ke-105 untuk Rumah Sakit Daerah Gunung Jati. Seratus lima tahun bukanlah waktu yang singkat. Ini adalah perjalanan panjang yang merekam jejak sejarah kemanusiaan di Kota Cirebon,” ujarnya.
Menurutnya, RSD Gunung Jati tidak boleh berhenti pada capaian yang telah diraih. Perubahan kebutuhan masyarakat menuntut rumah sakit untuk terus beradaptasi, baik dari sisi teknologi, inovasi maupun cara memberikan pelayanan.
Wali Kota menegaskan, transformasi yang dilakukan harus tetap menempatkan masyarakat sebagai tujuan utama.
“Kita ingin pelayanan di rumah sakit ini tidak hanya cepat dan modern, tetapi juga ramah dan manusiawi. Transformasi dan inovasi yang kita lakukan harus selalu bermuara pada satu tujuan, yaitu terwujudnya kualitas kesehatan dan kesejahteraan masyarakat yang berkeadilan,” katanya.
Salah satu perkembangan yang mendapat perhatian adalah hadirnya layanan ginekologi onkologi atau layanan khusus penanganan kanker pada organ reproduksi perempuan. Layanan tersebut menjadi bagian dari upaya RSD Gunung Jati untuk memperluas akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang lebih spesifik dan komprehensif.
Selain itu, RSD Gunung Jati juga telah menghadirkan layanan penanganan kanker payudara. Kedua layanan tersebut menjadi bagian dari pengembangan Poliklinik Rara Jelita yang secara khusus memberikan pelayanan bagi perempuan.
Wali Kota mengatakan, kehadiran layanan tersebut memiliki arti penting bagi masyarakat Ciayumajakuning. Sebab, selama ini masyarakat yang membutuhkan layanan kanker kandungan untuk penanganan lebih lanjut banyak yang harus mengakses fasilitas kesehatan di luar daerah.
“Ini merupakan satu inovasi untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat Ciayumajakuning. Untuk pelayanan kanker kandungan, di wilayah Ciayumajakuning ini baru RSD Gunung Jati yang memberikan layanan tersebut,” ungkapnya.
Ia menambahkan, layanan kanker payudara juga telah mulai beroperasi dan memberikan pelayanan kepada masyarakat sejak 10 Agustus 2026.
“Alhamdulillah, mudah-mudahan ini bisa membantu pelayanan masyarakat Kota Cirebon maupun masyarakat sekitar yang membutuhkan penanganan kanker payudara ataupun kanker kandungan di Rumah Sakit Gunung Jati,” tuturnya.
Di sisi lain, Wali Kota mengingatkan seluruh jajaran RSD Gunung Jati agar tidak cepat berpuas diri dengan berbagai capaian yang telah diraih. Menurutnya, harapan masyarakat terhadap pelayanan publik terus berkembang dan sering kali bergerak lebih cepat daripada kemampuan institusi dalam meresponsnya.
Karena itu, inovasi dan pembenahan harus menjadi bagian dari keseharian, bukan hanya dilakukan ketika ada penilaian atau momentum tertentu.
Wali Kota juga menekankan pentingnya kekompakan seluruh unsur di lingkungan rumah sakit. Dokter, perawat, bidan, tenaga administrasi, petugas kebersihan, keamanan hingga seluruh unsur pendukung memiliki peran yang sama penting dalam memastikan pelayanan berjalan dengan baik.
“Jangan ada ego sektoral, ego profesi, apalagi ego pribadi. Keselamatan dan kepuasan pasien adalah di atas segalanya. RSD Gunung Jati sebagai rumah sakit rujukan utama harus diwujudkan melalui kerja bersama, bukan hanya berhenti pada laporan administratif,” tegasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Wali Kota turut mengingatkan mengenai kedisiplinan aparatur. Menurutnya, rumah sakit memiliki karakter pelayanan yang berbeda karena beroperasi selama 24 jam. Ketepatan waktu dan kehadiran petugas bukan semata-mata persoalan administrasi kepegawaian, melainkan bagian dari tanggung jawab kepada pasien.
“Selama jam kedinasan, tugas pelayanan di rumah sakit ini adalah kehormatan dan prioritas utama. Berikanlah teladan yang baik dan jadikan kedisiplinan sebagai bentuk kesadaran nurani kita sebagai abdi negara,” ungkapnya.
Selain kualitas pelayanan, Wali Kota meminta manajemen RSD Gunung Jati memberikan perhatian serius terhadap tata kelola administrasi, termasuk proses klaim BPJS Kesehatan. Ia menilai kelengkapan administrasi dan kelancaran klaim tidak dapat dipandang sebagai urusan satu bagian saja, melainkan menjadi tanggung jawab seluruh mata rantai pelayanan.
“Saya meminta manajemen untuk membangun ekosistem administrasi yang sehat dan terintegrasi. Kita harus bersama-sama menyelesaikan persoalan-persoalan masa lalu, tetapi jangan sampai menimbulkan persoalan baru,” pesannya.
Direktur Utama RSD Gunung Jati Kota Cirebon, dr. Katibi, mengatakan pengembangan layanan di rumah sakit pada dasarnya lahir dari dua hal utama, yakni perkembangan ilmu pengetahuan dan meningkatnya kebutuhan masyarakat.
Menurutnya, kedua hal tersebut bertemu dalam pengembangan layanan ginekologi onkologi di RSD Gunung Jati.
“Perkembangan itu dipicu oleh dua hal. Pertama, pengetahuan, dan kedua, kebutuhan masyarakat. Dua-duanya bertemu dalam pelayanan ginekologi onkologi,” ujar dr. Katibi.
Ia menjelaskan, perkembangan keilmuan di bidang obstetri dan ginekologi saat ini semakin luas dengan hadirnya berbagai subspesialisasi. RSD Gunung Jati sebelumnya telah memiliki layanan subspesialis fetomaternal, dan kini pengembangan dilanjutkan dengan menghadirkan layanan ginekologi onkologi.
“Ini merupakan titik temu antara perkembangan ilmu pengetahuan, pendidikan, dan kebutuhan masyarakat itu sendiri,” katanya.
Kehadiran layanan tersebut sekaligus menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat Cirebon dan wilayah Ciayumajakuning yang selama ini banyak mengandalkan rujukan ke rumah sakit di Bandung, khususnya Rumah Sakit Hasan Sadikin.
“Selama ini pelayanan ginekologi onkologi banyak bertumpu di Rumah Sakit Hasan Sadikin. Kita relatif jauh, bisa dua sampai tiga jam ke sana, sementara di sana juga padat karena banyak kebutuhan dan antrean dari berbagai daerah,” jelas dr. Katibi.
Dengan hadirnya layanan ginekologi onkologi di RSD Gunung Jati, masyarakat kini memiliki alternatif layanan yang lebih dekat. Hal tersebut sejalan dengan posisi RSD Gunung Jati sebagai rumah sakit daerah yang melayani masyarakat Kota Cirebon dan wilayah sekitarnya.
dr. Katibi menyebutkan, layanan tersebut telah berjalan dan melayani pasien, termasuk peserta Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) melalui BPJS Kesehatan sejak 10 Agustus 2026.
“Pengembangan layanan tersebut semoga dapat semakin mendekatkan akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan, sekaligus menjadi bagian dari perjalanan RSD Gunung Jati untuk terus berkembang sebagai rumah sakit rujukan yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat,” harapnya.











