Menggali Kekayaan Rempah dan Tradisi Herbal di Festival Jalur Rempah 2026 Cirebon

Cirebon15 Dilihat
Pemkot Cirebon Ajak Masyarakat Lestarikan Tradisi Jamu sebagai Warisan Budaya Bernilai Ekonomi

CIREBON CK 24 – Kekayaan rempah dan tradisi pengobatan herbal kembali menjadi sorotan dalam Festival Jalur Rempah Episode 3 Tahun 2026 yang bertajuk Cirebon Cultural Wellness Workshop Jamu Tradisional dan Jamu Perawatan Pengantin, digelar di Keraton Kacirebonan pada Selasa, 28 Juli 2026.

Acara ini menjadi wadah kolaborasi antara Pemerintah Kota Cirebon, Himpunan Ahli Rias Pengantin Indonesia (HARPI) Melati Kota Cirebon, Keraton Kacirebonan, serta berbagai mitra lainnya untuk kembali mengangkat nilai budaya lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.

Wakil Wali Kota Cirebon, Siti Farida Rosmawati, menyatakan bahwa keberlangsungan Festival Jalur Rempah hingga episode ketiga menunjukkan adanya komitmen bersama untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya.

“Saya sangat bangga dan bahagia karena kegiatan hari ini merupakan bagian dari Festival Jalur Rempah yang sudah memasuki Episode 3. Fakta bahwa kegiatan ini dapat terselenggara hingga tiga kali menunjukkan keseriusan dan komitmen kita bersama dalam melestarikan kebudayaan serta berbagai keterampilan yang diwariskan oleh para leluhur,” ujarnya.

Menurutnya, pembicaraan tentang jamu tradisional dan perawatan pengantin bukan hanya soal memperkenalkan produk herbal, tetapi juga mengingatkan kita akan kebijaksanaan nenek moyang dalam memanfaatkan bahan-bahan alami untuk menjaga kesehatan dan kebugaran.

Di tengah tren kembali ke alam yang berkembang di banyak negara, tradisi ini justru membuka peluang baru bagi para pelaku usaha, terutama di sektor jasa pernikahan dan ekonomi kreatif.

Wakil Wali Kota memandang bahwa para perias pengantin memiliki peran strategis dalam mengoptimalkan potensi ini. Dengan menguasai keterampilan merias dan pengetahuan tentang jamu tradisional, layanan yang mereka tawarkan dapat memberikan nilai tambah sekaligus membantu melestarikan identitas budaya bangsa.

“Kerja sama antara HARPI Melati, Keraton Kacirebonan, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta dukungan dari sektor industri merupakan contoh kolaborasi yang sangat tepat. Melalui sinergi seperti inilah budaya lokal dapat memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan pada akhirnya meningkatkan kesejahteraan para pelaku usaha jasa pernikahan di Kota Cirebon,” tuturnya.

Melalui Festival Jalur Rempah Episode 3, Pemerintah Kota Cirebon berharap tradisi jamu tidak hanya terjaga sebagai identitas budaya, tetapi juga dapat berkembang menjadi potensi ekonomi kreatif yang bermanfaat nyata bagi masyarakat.

Ketua HARPI Melati Kota Cirebon, Wiwit Widyawati, menyatakan bahwa ada 75 peserta dari Ciayumajakuning yang berpartisipasi dalam workshop ini. Ia mengungkapkan apresiasi kepada semua pihak yang telah mendukung terlaksananya acara tersebut.

“Festival Jalur Rempah bukan hanya menjadi ajang untuk mengenang kejayaan jalur rempah Nusantara, tetapi juga menjadi momentum untuk melestarikan tradisi meracik jamu sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia,” ujarnya.

Sebagai organisasi yang bergerak di bidang tata rias dan kecantikan pengantin, HARPI Melati Kota Cirebon, lanjut Wiwit, berkomitmen mendukung pelestarian budaya melalui pemanfaatan bahan-bahan alami untuk perawatan kecantikan, baik dari luar maupun dari dalam tubuh.

Ia berharap para peserta memperoleh pengetahuan dan keterampilan baru sekaligus semakin bangga terhadap kekayaan budaya bangsa.

“Semoga kolaborasi antara HARPI Melati, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, Mustika Ratu, serta Keraton Cirebon dapat terus berlanjut pada berbagai kegiatan pelestarian budaya di masa mendatang,” harapnya.

Sementara itu, Sultan Keraton Kacirebonan ke-X, Pangeran Sultan Abdul Gani Natadiningrat, menegaskan bahwa Cirebon sejak dahulu memiliki posisi penting sebagai jalur perdagangan rempah karena letaknya yang berada di kawasan pesisir dan memiliki kerajaan. Menurutnya, sejarah tersebut menjadi alasan kuat untuk terus menghidupkan kembali nilai-nilai budaya yang lahir dari tradisi rempah.

“Sejak dahulu Cirebon merupakan jalur rempah. Karena itu kami mendukung penuh kegiatan ini. Mudah-mudahan menjadi momentum yang produktif, tidak hanya menjaga nilai-nilai kebudayaan, tetapi juga menghadirkan nilai ekonomi bagi masyarakat. Semoga workshop ini membawa manfaat sekaligus mengangkat kearifan lokal yang kita miliki,” ucapnya. (uki)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *